Aktivis muslimah Ratu Erma Rachmayanti mengaku prihatin dengan banyaknya anak yang mengalami mental illness atau gangguan kesehatan jiwa sampai setiap sekolah diharuskan menyediakan layanan kesehatan jiwa. Ia pun membeberkan penyebabnya.
-
Ratu Erma Beberkan Penyebab Mental Illness pada Anak
https://muslimahnews.net/2022/07/21/9053/
-
Muslimah News, NASIONAL — Aktivis muslimah Ratu Erma Rachmayanti mengaku prihatin dengan banyaknya anak yang mengalami mental illness atau gangguan kesehatan jiwa sampai setiap sekolah diharuskan menyediakan layanan kesehatan jiwa.
Dalam sebuah podcast bertema “Pendidikan Kesehatan Jiwa di Sekolah, Tak Bisa Selesaikan Masalah Gangguan Mental pada Anak”, Selasa (12/7/2022), Ratu Erma pun membeberkan penyebabnya.
“Penyebabnya tidak jarang mereka itu terpengaruh oleh situasi di keluarganya yang tidak harmonis, pernah mendapatkan kekerasan, pelecehan, boleh jadi karena sebab fisik, kekurangan gizi, faktor lingkungan, stigma atau label negatif yang tidak benar di masyarakat, dan lainnya,” urainya.
Meskipun, menurutnya, harus disadari penyebab itu ada karena seperti itulah kehidupan masyarakat hari ini. “Keluarga tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka akibat kesenjangan pendapatan yang diciptakan oleh nilai dan aturan di bidang ekonomi yang liberal. Akibatnya, menimbulkan diskriminasi, distribusi pendapatan yang tidak merata sehingga memunculkan keluarga miskin,” ulasnya.
-
Negara Sekuler
-
Begitu juga, imbuhnya, di negara sekuler ini aturan sosialnya tidak mengacu kepada Islam. “Akhirnya, tidak sedikit hubungan keluarga yang tidak harmonis. Ini disebabkan berbagai faktor, seperti pemahaman agama yang kurang, ekonomi yang berat, tidak memiliki pemahaman dan pendidikan yang cukup bagaimana berkomunikasi dengan anggota keluarga, sehingga berpengaruh terhadap berjalannya fungsi keluarga yang semestinya,” ungkapnya.
Selain itu, Ratu Erma menjelaskan, hal ini pun dipengaruhi sistem pendidikan yang sekuler. “Akibatnya, menghasilkan masyarakat yang “sakit” ditambah dengan mental penguasa yang korup, lalai dan tidak bertanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka,” cetusnya.
Dari semua itu, sambungnya, maka kita tidak heran kalau kesedihan, tekanan, dan penderitaan sudah dirasakan oleh anak-anak sejak usia dini ketika berada di tengah keluarga yang tidak harmoni, mengalami pelecehan, kekerasan, dan sebagainya sampai mereka tumbuh dewasa. “Hingga kita dapati hari ini mental illness yang dihadapi anak-anak,” paparnya.
-
Solusi Terintegrasi
-
Tentu saja, Ratu Erma menyatakan, dengan berbagai faktor penyebab tadi, tidak memadai jika sekolah yang ditimpakan terhadap persoalan ini, melainkan harus dengan solusi terintegrasi.
“Kita harus memulainya dengan perbaikan di kehidupan keluarga kemudian kehidupan sosial masyarakat, termasuk harus memperbaiki hal-hal terkait tanggung jawab para pemimpin yang berkuasa terhadap rakyatnya,” tukasnya.
Ia pun menjelaskan, menjadi hal yang prinsip juga untuk dibenahi adalah pendidikan saat ini yang tidak bisa diselesaikan negara yang tidak bervisi Islam.
“Pendidikan yang benar adalah yang sesuai dengan fitrah insani yang memberikan ruang hidup untuk tumbuh kembang dengan baik dari segala aspeknya, baik fisik, kejiwaan, dan juga pemenuhan kebutuhan hidup di sepanjang kehidupan mereka. Itu menjadi hal prinsip yang harus kita benahi dan itu tidak bisa kita serahkan kepada negara yang tidak mempunyai visi dan prinsip yang tidak sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri, yaitu dengan Islam,” terangnya.
-
Kehidupan Islam
-
Oleh karena itu, Ratu Erma menekankan, kesehatan mental tidak bisa dilepaskan dari kebijakan negara di bidang pendidikan, ekonomi, sosial dan lain-lain. “Sehingga penting bagi kita mewujudkan sebuah kehidupan baru yang keluar dari aturan sekuler kepada kehidupan Islam,” ujarnya.
Kehidupan Islam itu sendiri, lanjutnya, ketika semua pemahaman, nilai, dan hukum akan diedukasi.
“Termasuk, bagaimana keluarga menyiapkan anak-anak mereka agar mampu memenuhi kebutuhan fisik dan psikisnya, kemudian juga masyarakat umum terkait penjagaan terhadap anak-anak dan generasi,” ucapnya.
Niscaya, tegas Ratu Erma, dengan adanya penegakan hukum-hukum syarak itu, berbagai pelanggaran sosial yang berpengaruh terhadap kesehatan mental, akan terhindarkan.
“Kemudian tanggung jawab negara secara utuh akan menyelamatkan atau mencegah anak-anak—generasi muda—mengalami gangguan mental. Itulah solusi mendasar yang kita butuhkan dan harus kita wujudkan,” tandasnya. [MNews/Ruh]
#IslamSelamatkanGenerasi
#WaspadaPembajakanPotensi
#KapitalisasiGenerasi
#FlashNews