Friday, July 22, 2022

prihatin dengan banyaknya anak yang mengalami mental illness

Aktivis muslimah Ratu Erma Rachmayanti mengaku prihatin dengan banyaknya anak yang mengalami mental illness atau gangguan kesehatan jiwa sampai setiap sekolah diharuskan menyediakan layanan kesehatan jiwa. Ia pun membeberkan penyebabnya.
-

Ratu Erma Beberkan Penyebab Mental Illness pada Anak
 

https://muslimahnews.net/2022/07/21/9053/
-

Muslimah News, NASIONAL — Aktivis muslimah Ratu Erma Rachmayanti mengaku prihatin dengan banyaknya anak yang mengalami mental illness atau gangguan kesehatan jiwa sampai setiap sekolah diharuskan menyediakan layanan kesehatan jiwa.

Dalam sebuah podcast bertema “Pendidikan Kesehatan Jiwa di Sekolah, Tak Bisa Selesaikan Masalah Gangguan Mental pada Anak”, Selasa (12/7/2022), Ratu Erma pun membeberkan penyebabnya.

“Penyebabnya tidak jarang mereka itu terpengaruh oleh situasi di keluarganya yang tidak harmonis, pernah mendapatkan kekerasan, pelecehan, boleh jadi karena sebab fisik, kekurangan gizi, faktor lingkungan, stigma atau label negatif yang tidak benar di masyarakat, dan lainnya,” urainya.

Meskipun, menurutnya, harus disadari penyebab itu ada karena seperti itulah kehidupan masyarakat hari ini. “Keluarga tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka akibat kesenjangan pendapatan yang diciptakan oleh nilai dan aturan di bidang ekonomi yang liberal. Akibatnya, menimbulkan diskriminasi, distribusi pendapatan yang tidak merata sehingga memunculkan keluarga miskin,” ulasnya.

-
Negara Sekuler
-

Begitu juga, imbuhnya, di negara sekuler ini aturan sosialnya tidak mengacu kepada Islam. “Akhirnya, tidak sedikit hubungan keluarga yang tidak harmonis. Ini disebabkan  berbagai faktor, seperti pemahaman agama yang kurang, ekonomi yang berat, tidak memiliki pemahaman dan pendidikan yang cukup bagaimana berkomunikasi dengan anggota keluarga, sehingga berpengaruh terhadap berjalannya fungsi keluarga yang semestinya,” ungkapnya.

Selain itu, Ratu Erma menjelaskan, hal ini pun dipengaruhi sistem pendidikan yang sekuler. “Akibatnya, menghasilkan masyarakat yang “sakit” ditambah dengan mental penguasa yang korup, lalai dan tidak bertanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka,” cetusnya.

Dari semua itu, sambungnya, maka kita tidak heran kalau kesedihan, tekanan, dan penderitaan sudah dirasakan oleh anak-anak sejak usia dini ketika berada di tengah keluarga yang tidak harmoni, mengalami pelecehan, kekerasan, dan sebagainya sampai mereka tumbuh dewasa. “Hingga kita dapati hari ini mental illness yang dihadapi anak-anak,” paparnya.

-
Solusi Terintegrasi
-

Tentu saja, Ratu Erma menyatakan, dengan berbagai faktor penyebab tadi, tidak memadai jika sekolah yang ditimpakan terhadap persoalan ini, melainkan harus dengan solusi terintegrasi.

“Kita harus memulainya dengan perbaikan di kehidupan keluarga kemudian kehidupan sosial masyarakat, termasuk harus memperbaiki hal-hal terkait tanggung jawab para pemimpin yang berkuasa terhadap rakyatnya,” tukasnya.

Ia pun menjelaskan, menjadi hal yang prinsip juga untuk dibenahi adalah pendidikan saat ini yang tidak bisa diselesaikan negara yang tidak bervisi Islam.

“Pendidikan yang benar adalah yang sesuai dengan fitrah insani yang memberikan ruang hidup untuk tumbuh kembang dengan baik dari segala aspeknya, baik fisik, kejiwaan, dan juga pemenuhan kebutuhan hidup di sepanjang kehidupan mereka. Itu menjadi hal prinsip yang harus kita benahi dan itu tidak bisa kita serahkan kepada negara yang tidak mempunyai visi dan prinsip yang tidak sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri, yaitu dengan Islam,” terangnya.

-
Kehidupan Islam
-

Oleh karena itu, Ratu Erma menekankan, kesehatan mental tidak bisa dilepaskan dari kebijakan negara di bidang pendidikan, ekonomi, sosial dan lain-lain. “Sehingga penting bagi kita mewujudkan sebuah kehidupan baru yang keluar dari aturan sekuler kepada kehidupan Islam,” ujarnya.

Kehidupan Islam itu sendiri, lanjutnya, ketika semua pemahaman, nilai, dan hukum akan diedukasi.

“Termasuk, bagaimana keluarga menyiapkan anak-anak mereka agar mampu memenuhi kebutuhan fisik dan psikisnya, kemudian juga masyarakat umum terkait penjagaan terhadap anak-anak dan generasi,” ucapnya.

Niscaya, tegas Ratu Erma, dengan adanya penegakan hukum-hukum syarak itu, berbagai pelanggaran sosial yang berpengaruh terhadap kesehatan mental, akan terhindarkan.

“Kemudian tanggung jawab negara secara utuh akan menyelamatkan atau mencegah anak-anak—generasi muda—mengalami gangguan mental. Itulah solusi mendasar yang kita butuhkan dan harus kita wujudkan,” tandasnya. [MNews/Ruh]

#IslamSelamatkanGenerasi  
#WaspadaPembajakanPotensi 
#KapitalisasiGenerasi

#FlashNews

miris menyaksikan banyaknya kekerasan seksual

“Sungguh sangat miris menyaksikan kenyataan banyaknya kekerasan seksual di Indonesia, bahkan dilakukan oleh orang yang seharusnya melindungi seperti guru, sebagaimana yang terjadi di Jombang,” ungkap pengamat masalah perempuan, keluarga, dan generasi dr. Arum Harjanti.
-

Arum Harjanti: Miris Menyaksikan Banyaknya Kekerasan Seksual di Indonesia
 

https://muslimahnews.net/2022/07/21/9048/
-

Muslimah News, NASIONAL — Indonesia Police Watch (IPW) mengapresiasi Polda Jatim yang profesional dalam operasi penangkapan tersangka pencabulan santriwati di Jombang berinisial MSAT.

Dalam hal ini, Ketua IPW Sugeng Teguh Santosa mengingatkan pimpinan lembaga pendidikan keagamaan yang menggunakan sistem pendidikan boarding school wajib menerapkan aturan ketat dalam interaksi murid dan pendidik. “Tujuannya dapat mengeliminasi potensi munculnya kontak fisik terlarang dan juga adanya pengawasan ketat pimpinan lembaga pendidikan pada para pengajar atau guru,” katanya.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga menekankan pentingnya melakukan tindakan preventif dalam mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.

Menurutnya, penanganan kasus kekerasan terhadap anak bukan hanya menyelesaikan kasus yang sudah terjadi tanpa menyelesaikan hulu permasalahannya. “Namun, yang jauh lebih penting yang harus kita lakukan, komitmen kita bersama adalah hulunya, tindakan preventif itu jauh lebih penting daripada kita hanya menyelesaikan di hilir saja,” ujarnya.

Persoalan ini pun disorot pengamat masalah perempuan, keluarga, dan generasi dr. Arum Harjanti. “Sungguh sangat miris menyaksikan kenyataan banyaknya kekerasan seksual di Indonesia, bahkan dilakukan oleh orang yang seharusnya melindungi seperti guru, sebagaimana yang terjadi di Jombang,” ungkapnya kepada MNews, Selasa (12/7/2022).

Yang menambah keprihatinan kita, lanjutnya, paska pengesahan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TP-KS) kekerasan seksual masih saja terus terjadi, bahkan kian marak.

-
Menarik
-

Menurut Arum, di tengah situasi buruk ini, menarik untuk menelaah pernyataan Ketua IPW tentang penerapan aturan ketat dalam interaksi murid dan pendidik untuk mengeliminasi potensi munculnya kontak fisik terlarang, juga pernyataan Menteri PPPA yang menekankan pentingnya tindakan preventif dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual.

“Sungguh, aturan interaksi yang ketat untuk mengurangi potensi kontak fisik merupakan bagian dari tindakan preventif yang sangat penting untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual sebagaimana disampaikan oleh Menteri PPPA,” tandasnya.

-
Mustahil
-

Namun, Arum menyayangkan aspek preventif ini tidak ada dalam UU TP-KS yang hanya berbicara tentang sanksi. “Tindakan preventif seperti ini juga bisa dikatakan mustahil untuk diterapkan di tengah kehidupan saat ini,” imbuhnya seraya memberikan alasan karena sistem kehidupan yang diterapkan saat ini adalah sekularisme yang melahirkan HAM dan liberalisme.

“HAM dan liberalisme inilah yang justru membuat perilaku salah dibiarkan, bahkan dibela! Sebagaimana juga melahirkan rasa aman berperilaku salah,” tegasnya.

Arum menilai, tidak masuk akal pelaku kekerasan seksual dilindungi, bahkan oleh 320 orang. “Oleh karena itu, bisa dipahami, jika kekerasan seksual tidak akan pernah bisa diberantas dan dicegah sampai kapan pun selama sekularisme liberal masih terus dijadikan pedoman perilaku,” ujarnya.

Bahkan, menurutnya, undang-undang yang ada justru tidak berdaya di depan konsep HAM karena juga lahir dari sekularisme. “Selama sekularisme masih menjadi asas, regulasi apa pun tidak akan mampu memberi solusi tuntas. Hukuman juga tidak akan mampu menumbuhkan efek jera, karena dunialah yang menjadi tujuannya. Semua akan dilakukan asal tercapai tujuannya karena tujuan bisa menghalalkan segala macam cara,” tukasnya.

-
Islam
-

Menurut Arum, menjadi satu keharusan diterapkannya langkah preventif, dan langkah preventif itu sejatinya ada pada sistem Islam, khususnya dalam sistem sosial.

“Islam mengharuskan adanya pemisahan antara perempuan dan laki-laki. Interaksi keduanya hanya dibolehkan jika ada kebutuhan syar’i. Islam juga mewajibkan menundukkan pandangan dan menutup aurat dengan sempurna,” terangnya.

Selanjutnya yang paling utama, ujarnya, akidah Islam menjadi asas bagi semua perilaku seorang muslim. “Keimanan yang kuat akan menjadi perisai dari kemaksiatan karena kesadarannya akan keberadaan Allah dan juga adanya sanksi di akhirat kelak. Islam juga memiliki sanksi yang mampu memberikan efek jera,” tambahnya.

Oleh karena itu, ia menandaskan, kekerasan seksual hanya dapat dicegah dan diberantas dengan tuntas bila syariat Islam diterapkan secara kafah. 

[MNews/IA]

#FlashNews

tulisan yang jleb

Tulisan yg Jleb

By; Fifi .

" Apa tugas ibu di rumah ? ". 
 Apa tugas ibu di rumah ? Setelah memasukkan anak anaknya ke pesantren ? Siang malam anak diurus orang lain , dikasih makan orang lain , di ajarin orang lain bahkan tidur pun sama orang lain .. 

Ibu hanya ketemu sebulan sekali , bahkan kadang lebih , kayak saya gini yang anak saya ada di pesantren nun jauh di sana , ratusan kilometers jaraknya . Naik pesawatpun pinggang ngerentek  saking jauhnya . 

Tapi demi masa depan anak yang kita harapkan lebih baik , kita rela memisahkan rasa dengan realita . 

Apa yang ibu harus lalukan ? Selama ini anak di depan mata . Dalam genggaman kita , tapi sekarang , untuk ngatur menu makanannya pun kita tak berdaya ... 

Apalagi kayak saya yang punya sekolahan , kalau anak saya lagi sekolah di sekolahan saya ; saya bisa ngatur sampai sedalam dalamnya , bahkan ada orgtua yang rela jadi pengurus kelas untuk  bantu ngatur anak anaknya walau tak begitu maksimal sebab segalanya sudah diatur sekolah , diambil alih sekolah . 

Risau ? Tentu saja ada . Soal guru yang mungkin pilih kasih , soal teman yang mungkin  pilih pilih , soal kakak kelas yang mungkin membully , soal makanan yang gak bisa milih milih , soal tempat tidur yang mungkin kurang bersih , soal pelajaran yang mungkin tak di mengerti . Juga adaptasi awalan yang terkadang mengalami disorientasi . 

# apa tugas ibu ? Ketika anak anak diambil oleh sekolah ? 
1) Sholat n berdo'a di waktu malam .. 
~ Yaa Alloh , Yaa Rahmaan .. Engkaulah  sebaik baik penjaga . Tolong jaga anak kami dalam pengawasan Mu yang tidak pernah alpha . Ingatkan  dia bila dia salah , tegurlah dia dengan caraMu . 
2) Shaum ; agar hati menjadi bersih dan emosi lebih tertata sehingga siap mendengar berita apapun mengenai dia . 
3) Tilawah ; agar hati menjadi tenang ~ agar ada ikatan hati antara apa yang kita baca dengan yang di baca / di hafal anak anak sama .. 
4) Berinfaq ; Berwasilah dengannya agar -dimudahkan jalannya dalam mencari ilmu . Dipermudah urusannya ketika anak anak tidak bersama dengan kita .

Kita tidak tahu , dia sedang apa sa'at ini . Apa yang dirasa detik ini . Apa yang ada dalam pikirannya saat ini . Kita berdo'a agar ~ semua baik baik saja . Di tangan org baik , situasi yang baik dan lingkungan yang baik .. 
~ Hanya Allah tempat kita meminta .Khusus untuk dia . 
# Allah Maha Kuasa. 
# Allah Maha Pemberi Hidayah .
~ Tugas ibu , ketika anak jauh dari pandangan ~ banyak munajat di atas sajadah panjang karena dengan mengingat Allah ,  hati menjadi tenang .. 

{الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’d

menjauhkan umat dari penyakit wahn

*Menjauhkan Umat dari Penyakit Wahn, Kunci Persatuan | One Minute Booster Extra*

Adapun al-wahn adalah penyebab kondisi kaum Muslim seperti itu. Cinta dunia dan benci mati saling terkait. Siapa yang cinta dunia, ia akan enggan untuk berpisah dan melepaskan apa saja yang bersifat duniawi. Karena itu dia akan membenci kematian karena kematian artinya memisahkan dia dari apa yang dia cintai. Simak selengkapnya di Channel Muslimah Center

suicide, tren generasi yang sakit

OMG, Sobat, ada remaja yang bernazar kalau ia lolos PTN akan memberikan santunan kepada anak yatim. Ketika tidak lolos, ia bernazar ingin bunuh diri. Gila ya, nazarnya?! Kabar terakhir, ybs dinyatakan meninggal akibat overdosis. Gemes, deh, suicide seolah jadi tren di generasi muda. Kita harus bagaimana, ya?
-

Suicide Menjadi Tren, Generasi Kita Sedang Sakit!

https://muslimahnews.net/2022/07/18/8910/
-

Penulis: Shezan A. Gerung

Muslimah News, DUNIA REMAJA – Kasus bunuh diri kembali terjadi. Tidak lolos ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi sebab kejadian tersebut. Selain itu, perlakuan sang pacar yang kasar dan manipulatif juga merupakan alasan untuk bunuh diri.

Seorang warganet menuliskan hal ini. Ia mengungkapkan bahwa adik dari temannya memiliki nazar ketika hendak mengikuti ujian masuk di sebuah PTN. Nazarnya adalah ketika ia lolos, dirinya akan memberikan santunan kepada anak yatim. Ketika tidak lolos, ia bernazar ingin bunuh diri. Gila ya, nazarnya?!

Saat mengetahui bahwa ia tidak lolos, ia pun mengatakan kepada kakaknya bahwa ia harus memenuhi nazarnya. Setelah mengatakan hal tersebut, ia lalu menghilang. Sang kakak tidak bisa mencari keberadaan adiknya karena sedang bekerja. Warganet heboh mengomentari twit tersebut. Ada yang menyesalkan, tidak sedikit pula yang miris dengan kejadian ini.

Beberapa jam setelah twit tersebut diunggah, pengirim twit mengunggah kembali lanjutan ceritanya. Ia mengungkapkan bahwa adik dari temannya telah meninggal dunia setelah meminum semua obat dari psikiater. Adik dari temannya ini juga overdosis alkohol. Hem, memang sudah sakit ternyata, ya, Sobat.

-
Bukan Kasus Pertama
-

Kasus suicide di negeri ini bukan kali ini saja terjadi, Sobat. Tren kasus ini bahkan meningkat dari tahun ke tahun. Penyebabnya juga macam-macam. Dari sekian banyak kasus, putus asa, gagal ujian, tidak mampu membayar biaya sekolah, perundungan, bahkan putus cinta menjadi faktor penyebab meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan remaja.

Kondisi remaja yang tidak stabil, kejiwaan yang mudah rapuh, dan lingkungan pergaulan yang serba bebas membuat remaja berpikiran pendek. Pada usia remaja dengan tingkat pengendalian emosi yang belum stabil, remaja kita mudah merasa insecure dan mengalami inferiority complex yang parah.

Di sisi lain, mudah bagi kita menemukan remaja berkarakter emosional. Mudah marah, mudah mengeluarkan sumpah serapah, berkata-kata kotor ke teman sebaya, bahkan tidak segan melakukan tindakan kriminal, seolah tanpa rasa takut. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka bangga dan merasa berani saat mampu melakukan kriminalitas.

Jika kondisinya sudah seperti ini, pantas saja mereka mudah mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Alhasil, bunuh diri menjadi jalan pintas untuk mengakhiri masalah hidup. Benar-benar miris, ya?!

Kondisi ini bukan semata karena aspek pribadi yang rapuh dan lingkungan pergaulan yang toksik, lo, Sobat. Kalau kita diskusikan lebih luas, kondisi ini bahkan dipengaruhi oleh sistem kehidupan yang sedang berjalan saat ini. Wah, kok bisa?

-
Pengaruh media
-

Ya, sebelum ke pembahasan sistemis, mari kita bahas terlebih dahulu masalah media ini, Sobat. Tidak dimungkiri, media sosial berperan besar dalam membentuk kecenderungan remaja. Gim daring, film, termasuk tekanan virtual karena mengejar popularitas, membuat remaja mudah putus asa dan mengalami gangguan mental.

Di sisi lain, sulitnya remaja menyaring informasi membuat mereka rentan terpapar informasi negatif. Contoh, tren diagnosis diri sendiri atau self diagnosed yang belakangan kerap muncul karena salah menerjemahkan pembahasan psikologis di dunia maya. Hanya dengan membaca meme dan pesan singkat, remaja dengan mudah berimajinasi sedang mengalami tekanan mental. Padahal, kondisi yang sedang ia alami belum tentu terkategori sakit mental. Jadilah, diagnosis negatif tegak dengan sendirinya. 

Parahnya, ada yang sampai menciptakan imajinasi sendiri seolah sedang tertekan agar orang-orang terdekat memberikan perhatian. Parah, ya? Padahal, memang lagi ingin diberi perhatian saja. Ada-ada saja, deh. 

Ya, meskipun demikian, memang ada yang level sakit mentalnya sudah parah dan butuh tindakan tenaga professional. Kalau ini harus mendapat penanganan sesegera mungkin.

Kembali ke masalah media, Sobat. Media sosial adalah bagian paling terdekat dengan kehidupan remaja saat ini. Dari media, mereka bisa meniru dan mengadopsi segala bentuk gaya hidup, termasuk tren suicide ini. 

Di dunia maya, remaja mudah mengakses konten-konten sejenis ini. Saat tekanan ada, mudah bagi mereka mempraktikkan suicide. Mulai minum obat hingga overdosis, menenggak racun, meminum khamar, hingga gantung diri. Wah, sadis banget, pokoknya!

Itu semua mereka adaptasi dari konten yang ada di dunia maya, lo. Walhasil, media jelas berpengaruh besar dalam membentuk mental dan emosional remaja. Makanya, tidak sedikit orang tua membatasi pemakaian gawai ke remaja. 

Namun, tetap saja usaha orang tua ini kerap menemui jalan buntu. Sistem hidup yang berjalan saat inilah penyebabnya, Sobat.

-
Sistem Sekuler
-

Pembahasannya rada berat, nih, yakni membahas sistem hidup. Akan tetapi, Sobat, ini justru poin pentingnya. 

Apa, sih, sistem sekuler itu? Jadi, sistem sekuler itu maksudnya adalah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Manusia dalam sistem ini jadi menjauhkan peran agama dalam mengatur kehidupan. Mereka tumbuh dan menjalani hidup tanpa menjadikan agama sebagai tuntunan.

Jadi terbayang, kan, bagaimana remaja pada usia dengan kematangan emosi yang tidak stabil, menjalani hidup jauh dari tuntunan agama? Agama hanya hadir saat di masjid saja. Padahal, dalam Islam, manusia wajib menjadikan syariat sebagai tuntunan.

Nah, sistem sekuler ini juga mengadopsi paham kebebasan. Semua bebas berperilaku, bebas mengadopsi nilai tertentu yang penting bahagia dan menyenangkan. Persepsi inilah yang berkembang di kalangan remaja. Pemahaman agama yang rapuh, plus gempuran budaya Barat yang serba bebas membuat remaja kita berada dalam kondisi terancam.

Dengan begitu, tanpa memahami agama, remaja mudah mengalami tekanan. Sedikit ada masalah, bawaannya ingin suicide saja. Ini bukan berarti tidak berempati, lo. Remaja memang butuh bimbingan bukan hanya dalam proses konseling dan sejenisnya, tetapi juga dari sistem sehat dan menyehatkan remaja.

-
Tuntunan Islam
-

Sobat, Islam memberikan tuntunan bagi manusia dalam menjalani hidup yang sehat. Islam mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia semata untuk beribadah kepada Allah Taala. Hal ini menuntut manusia untuk senantiasa mengikatkan seluruh perbuatannya sesuai syariat. Makanya, tidak akan kita temui manusia yang taat syariat akan bingung menjalani hidup, apalagi kehilangan arah.

Salah satu sebab remaja mudah memutuskan suicide ya karena bingung menjalani hidupnya. Jadi, hal utama dan penting dilakukan saat ini adalah merevisi tujuan hidup kaum remaja. Selain itu juga menciptakan sistem kondusif dan sehat untuk mereka.

Ya, mau bagaimana? Selama sistem sekuler masih berjalan, bukan tidak mungkin tren suicide akan sulit terbendung. Terbayang kan, bagaimana psikiater gempor melayani pasien mental illness? Ini karena sistem sekuler terbukti menciptakan generasi sakit seperti saat ini. Kalau sudah kayak begini, tidak ada alasan lagi untuk tidak memperjuangkan sistem Islam, kan? Yuk, bersiap untuk bareng-bareng memperjuangkannya! [MNews/Gz]

#DuniaRemaja