Friday, July 22, 2022

suicide, tren generasi yang sakit

OMG, Sobat, ada remaja yang bernazar kalau ia lolos PTN akan memberikan santunan kepada anak yatim. Ketika tidak lolos, ia bernazar ingin bunuh diri. Gila ya, nazarnya?! Kabar terakhir, ybs dinyatakan meninggal akibat overdosis. Gemes, deh, suicide seolah jadi tren di generasi muda. Kita harus bagaimana, ya?
-

Suicide Menjadi Tren, Generasi Kita Sedang Sakit!

https://muslimahnews.net/2022/07/18/8910/
-

Penulis: Shezan A. Gerung

Muslimah News, DUNIA REMAJA – Kasus bunuh diri kembali terjadi. Tidak lolos ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi sebab kejadian tersebut. Selain itu, perlakuan sang pacar yang kasar dan manipulatif juga merupakan alasan untuk bunuh diri.

Seorang warganet menuliskan hal ini. Ia mengungkapkan bahwa adik dari temannya memiliki nazar ketika hendak mengikuti ujian masuk di sebuah PTN. Nazarnya adalah ketika ia lolos, dirinya akan memberikan santunan kepada anak yatim. Ketika tidak lolos, ia bernazar ingin bunuh diri. Gila ya, nazarnya?!

Saat mengetahui bahwa ia tidak lolos, ia pun mengatakan kepada kakaknya bahwa ia harus memenuhi nazarnya. Setelah mengatakan hal tersebut, ia lalu menghilang. Sang kakak tidak bisa mencari keberadaan adiknya karena sedang bekerja. Warganet heboh mengomentari twit tersebut. Ada yang menyesalkan, tidak sedikit pula yang miris dengan kejadian ini.

Beberapa jam setelah twit tersebut diunggah, pengirim twit mengunggah kembali lanjutan ceritanya. Ia mengungkapkan bahwa adik dari temannya telah meninggal dunia setelah meminum semua obat dari psikiater. Adik dari temannya ini juga overdosis alkohol. Hem, memang sudah sakit ternyata, ya, Sobat.

-
Bukan Kasus Pertama
-

Kasus suicide di negeri ini bukan kali ini saja terjadi, Sobat. Tren kasus ini bahkan meningkat dari tahun ke tahun. Penyebabnya juga macam-macam. Dari sekian banyak kasus, putus asa, gagal ujian, tidak mampu membayar biaya sekolah, perundungan, bahkan putus cinta menjadi faktor penyebab meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan remaja.

Kondisi remaja yang tidak stabil, kejiwaan yang mudah rapuh, dan lingkungan pergaulan yang serba bebas membuat remaja berpikiran pendek. Pada usia remaja dengan tingkat pengendalian emosi yang belum stabil, remaja kita mudah merasa insecure dan mengalami inferiority complex yang parah.

Di sisi lain, mudah bagi kita menemukan remaja berkarakter emosional. Mudah marah, mudah mengeluarkan sumpah serapah, berkata-kata kotor ke teman sebaya, bahkan tidak segan melakukan tindakan kriminal, seolah tanpa rasa takut. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka bangga dan merasa berani saat mampu melakukan kriminalitas.

Jika kondisinya sudah seperti ini, pantas saja mereka mudah mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Alhasil, bunuh diri menjadi jalan pintas untuk mengakhiri masalah hidup. Benar-benar miris, ya?!

Kondisi ini bukan semata karena aspek pribadi yang rapuh dan lingkungan pergaulan yang toksik, lo, Sobat. Kalau kita diskusikan lebih luas, kondisi ini bahkan dipengaruhi oleh sistem kehidupan yang sedang berjalan saat ini. Wah, kok bisa?

-
Pengaruh media
-

Ya, sebelum ke pembahasan sistemis, mari kita bahas terlebih dahulu masalah media ini, Sobat. Tidak dimungkiri, media sosial berperan besar dalam membentuk kecenderungan remaja. Gim daring, film, termasuk tekanan virtual karena mengejar popularitas, membuat remaja mudah putus asa dan mengalami gangguan mental.

Di sisi lain, sulitnya remaja menyaring informasi membuat mereka rentan terpapar informasi negatif. Contoh, tren diagnosis diri sendiri atau self diagnosed yang belakangan kerap muncul karena salah menerjemahkan pembahasan psikologis di dunia maya. Hanya dengan membaca meme dan pesan singkat, remaja dengan mudah berimajinasi sedang mengalami tekanan mental. Padahal, kondisi yang sedang ia alami belum tentu terkategori sakit mental. Jadilah, diagnosis negatif tegak dengan sendirinya. 

Parahnya, ada yang sampai menciptakan imajinasi sendiri seolah sedang tertekan agar orang-orang terdekat memberikan perhatian. Parah, ya? Padahal, memang lagi ingin diberi perhatian saja. Ada-ada saja, deh. 

Ya, meskipun demikian, memang ada yang level sakit mentalnya sudah parah dan butuh tindakan tenaga professional. Kalau ini harus mendapat penanganan sesegera mungkin.

Kembali ke masalah media, Sobat. Media sosial adalah bagian paling terdekat dengan kehidupan remaja saat ini. Dari media, mereka bisa meniru dan mengadopsi segala bentuk gaya hidup, termasuk tren suicide ini. 

Di dunia maya, remaja mudah mengakses konten-konten sejenis ini. Saat tekanan ada, mudah bagi mereka mempraktikkan suicide. Mulai minum obat hingga overdosis, menenggak racun, meminum khamar, hingga gantung diri. Wah, sadis banget, pokoknya!

Itu semua mereka adaptasi dari konten yang ada di dunia maya, lo. Walhasil, media jelas berpengaruh besar dalam membentuk mental dan emosional remaja. Makanya, tidak sedikit orang tua membatasi pemakaian gawai ke remaja. 

Namun, tetap saja usaha orang tua ini kerap menemui jalan buntu. Sistem hidup yang berjalan saat inilah penyebabnya, Sobat.

-
Sistem Sekuler
-

Pembahasannya rada berat, nih, yakni membahas sistem hidup. Akan tetapi, Sobat, ini justru poin pentingnya. 

Apa, sih, sistem sekuler itu? Jadi, sistem sekuler itu maksudnya adalah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Manusia dalam sistem ini jadi menjauhkan peran agama dalam mengatur kehidupan. Mereka tumbuh dan menjalani hidup tanpa menjadikan agama sebagai tuntunan.

Jadi terbayang, kan, bagaimana remaja pada usia dengan kematangan emosi yang tidak stabil, menjalani hidup jauh dari tuntunan agama? Agama hanya hadir saat di masjid saja. Padahal, dalam Islam, manusia wajib menjadikan syariat sebagai tuntunan.

Nah, sistem sekuler ini juga mengadopsi paham kebebasan. Semua bebas berperilaku, bebas mengadopsi nilai tertentu yang penting bahagia dan menyenangkan. Persepsi inilah yang berkembang di kalangan remaja. Pemahaman agama yang rapuh, plus gempuran budaya Barat yang serba bebas membuat remaja kita berada dalam kondisi terancam.

Dengan begitu, tanpa memahami agama, remaja mudah mengalami tekanan. Sedikit ada masalah, bawaannya ingin suicide saja. Ini bukan berarti tidak berempati, lo. Remaja memang butuh bimbingan bukan hanya dalam proses konseling dan sejenisnya, tetapi juga dari sistem sehat dan menyehatkan remaja.

-
Tuntunan Islam
-

Sobat, Islam memberikan tuntunan bagi manusia dalam menjalani hidup yang sehat. Islam mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia semata untuk beribadah kepada Allah Taala. Hal ini menuntut manusia untuk senantiasa mengikatkan seluruh perbuatannya sesuai syariat. Makanya, tidak akan kita temui manusia yang taat syariat akan bingung menjalani hidup, apalagi kehilangan arah.

Salah satu sebab remaja mudah memutuskan suicide ya karena bingung menjalani hidupnya. Jadi, hal utama dan penting dilakukan saat ini adalah merevisi tujuan hidup kaum remaja. Selain itu juga menciptakan sistem kondusif dan sehat untuk mereka.

Ya, mau bagaimana? Selama sistem sekuler masih berjalan, bukan tidak mungkin tren suicide akan sulit terbendung. Terbayang kan, bagaimana psikiater gempor melayani pasien mental illness? Ini karena sistem sekuler terbukti menciptakan generasi sakit seperti saat ini. Kalau sudah kayak begini, tidak ada alasan lagi untuk tidak memperjuangkan sistem Islam, kan? Yuk, bersiap untuk bareng-bareng memperjuangkannya! [MNews/Gz]

#DuniaRemaja

No comments:

Post a Comment